Dulu sebelum aku mengenakan jilbab, aku adalah seseorang yang berperilaku bebas. Aku pernah berpacaran dua tahun lamanya. Walaupun kebetulan aku berpacaran dengan anak kiai, namun tetap saja aku tidak terbawa untuk segera berjilbab. Selepas SMP, kami berpisah karena aku harus meneruskan study ke SMA yang ada di luar kota tempat aku tinggal.
Setelah SMA, aku bertemu dengan seorang ikhwan dan akhwat yang amat kuat imannya terhadap ajaran agama islam. Aku pun bersahabat dengan mereka. Mereka adalah Nazwan dan Qisya, selain wajah mereka yang rupawan, mereka juga sangat baik dan sopan. Sudah satu tahun aku bersahabat dengan mereka. Setelah aku bergaul dengan mereka, kehidupanku pun berubah perlahan-lahan.
Aku bersahabat dengan Qisya dan Nazwan. Mereka adalah teman terbaikku yang selalu ada saat aku suka dan duka, senang maupun sedih. Mereka tak pernah memandangku seperti halnya orang lain. Mereka seorang ikhwan dan akhwat yang baik sekali. Tak ku sangka, ternyata diam-diam Nazwan ingin aku berjilbab, aku tahu itu ketika Qisya memuji untuk segera berjilbab. Itu tak mudah bagi ku. Waktu terus berlalu, hari berganti hari, Qisya pun tak pernah bosan menasehatiku.
setelah itu, ku rengkan perkataan Qisya padaku. Setiap malam tiba, aku merenungkan lagi perkataan Qisya padaku. Tiba-tiba Kak Ilham datang menghampiriku. Dia adalah kakakku satu-satu dan keluarga kandungku satu-satunya. Aku sangat menyayanginya, begitupun dengan Kak Ilham padaku. Oran tuaku sudah tiada. Aku pun bercerita kepada Kak Ilham semua apa yang terjadi padaku dan termasuk mengenakan jilbab. Ternyata pemikiran Kak Ilham sama seperti yang di utarakan Qisya dan Nazwan beberapa waktu silam. Kak Ilham pun menjelaskan kembali, yang ku ingat dari kata-kata Kak Ilham yaiu,“Jilbab membuat wanita dihormati bahkan ia akan terlindungi, baik dari sesama makhluk, juga dari cuaca di sekitar kita. Bahkan lawan jenis pun tidak akan berani melakukan hal-hal yang tidak sopan terhadap wanita yang menutup auratnya dengan baik.”
Setelah itu, aku pun tertidur di malam yang sunyi itu, hanya terdengar suara jangkrik dan suara gesekan dau-daun kering yang terhembus oleh angin. Seketika mataku terbuka, ku lihat disekelilingku banyak sekali jenazah yang tergeletak, karena sebuah bencana yang menimpa mereka, yang pada akhirnya banyak memakan korban. Sungguh betapa sedihnya hatiku melihat jenazah yang tergeletak begitu saja, dalam keadaan menyedihkan, banyak sekali korban yang dilumuri darahnya sendiri. Jauh sekali dengan kematian yang aku pikirkan selama ini ; meninggal dunia secara damai, terbaring di tempat tidur atau di tempat yang bersih dan terhormat, diiringi tangisan dan kunjungan orang-orang yang mencintai karena kehilangan. Namun, itulah kenyataan yang terjadi. Allah SWT. Dengan mudahnya membinasakan manusia yang telah melanggar aturannya dalam keadaan apapun dan kapanpun. Tidak terkecuali diriku. Tiba-tiba aku terjatuh ke dalam jurang tanpa dasar.
Aku pun terbangun dari tidurku. Aku segera terperajat memeluk Kak Ilham yang saat itu sudah ada di kamarku karena pada saat ia akan membangunkanku. Aku segera mandi dan melaksanakan shalat shubuh berjamaah bersama Kak Ilham. Ku bereskan buku untuk hari ini aku bersekolah. Hari ini aku bersekolah dengan mengenakan jilbab yang tak selebar kepunyaan Qisya.
Di sekolah, aku melihat Qisya sedang duduk di bawah pohon rindang. Aku pun menghampirinya. Qisya terdiam begitu saja saat ia melihatku, ku buyarkan lamunannya. Saat kita sedang berbincang Nazwan pun datang dengan mengucapkan salam sambil terbata-bata. Ternyata, mereka berdua kagum padaku karena aku telah mengenakan jilbab, apalagi Nazwan, sepertinya dia lebih senang bila aku berjilbab. Aku merasakan sesuatu dari perhatian yang di berikan Nazwan padaku. Apakah itu hanya perasaanku saja.? Tanyaku dalam hati.
Sudah satu minggu aku berjilbab dan belajar agama islam yang lebih dalam lagi. Aku, Qisya dan Nazwan pun semakin akrab. Sedikit demi sedikit aku belajar dari Qisya dan Nazwan. Qisya selalu mengajakku untuk mengajakku untuk mengikuti pengajian-pengajian.
Sekarang aku tidak pernah melepas jilbabku saat aku keluar rumah. Banyak sekali hal-hal yang berubah dalam diriku, terutama perhatian Qisya dan Nazwan padaku. Sekarang aku merasa nyaman menjalani kehidupan seperti ini.
Matahari terbenam menandakan waktu malam tiba. Ku dengar seseorang sedang mengumandangkan adzan pertanda masuknya shalat maghrib. Ku segerakan mengambil air wudhu dan bergegas melaksanakan shalat maghrib. Setelah shalat, aku pun berdo’a :
“Ya Allah. Aku selama ini telah berdosa karena tidak mengenakan busana yang menutupi aurat secara sempurna. Belum lagi dosa-dosa besar yang telah dilakukan, disengaja atau tidak disengaja. Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikanku hidayah yang Engkau datangkan melalui sahabat dan kakakku. Engkau Maha Pemngasih Lagi Maha Penyayang.. Amien…..”
Setelah berdo’a, rasanya diriku terasa hampa dan rasa gelisah pun tak menghantuiku lagi.rasa takut pun sekarang sudah mulai terasa tenang. Aku pun segera tidur, karena malam sudah terlalu larut.
Di rumah ku sudah berkibar beberapa bendera kuning, banyak orang yang berdatangan ke rumah ku sambil mengeluarkan air mata. Dan ku lihat Qisya dan Nazwan, ku dekati mereka, ku ajak mereka bicara dan hasilnya nihil. Mereka tidak mendengarku, bahkan memegangnya pun tak bisa. Ku lihat Qisya dan Nazwan menghampiri Kak Ilham. Ku ikuti mereka.
Tak lama aku pun menyadarinya, bahwa aku sudah meninggal dunia dan harus meninggalkan orang-orang yang aku sayang dan yang aku cintai. Tiba-tiba dari arah pintu… Datanglah Cahaya Putih…..
Lalu, Shira pun menghilang dan pergi ke tempat dimana manusia akan kembali kepada Penciptanya yaitu Sang Khalik.
Apakah Shira akan diterima disisi Allah SWT…??
Sebaik-baik orang adalah orang yang mau bertaubat di jalan-Nya. Dan tidak ada kata terlambat untuk bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya Taubat. Allah SWT akan mengampuni semua umatnya yang sungguh-sungguh dalam bertaubat.
www.imajinasi.com n_n
Tidak ada komentar:
Posting Komentar