Hari yang cerah sedang menantiku. Burung berkicau riang di pagi ini, angin sepoi-sepoi menyapaku dengan sejuknya. Matahari menampakkan sinarnya dengan begitu indah. Hari ini awal ku melanjutkan sekolah setelah lama libur akhir semester. Aku terbilang sesosok orang yang misterius yang susah ditebak, begitulah tanggapan teman-teman padaku.
Buku-buku tebal dan kamus telah ku pegang dengan siap, tas ransel yang selalu menemaniku saat aku berada di medan perang pun ku rangkul. Ku lihat pada cermin, sesosok gadis yang siap menghadapi hari ini, dengan senyumnya dia berkata,”Aku siap dengan hari ini. Semoga Allah selalu meridhoi setiap langkah baikku”. Dengan pakaian taqwaku, aku pun berjalan dengan riangnya.
Ku berjalan dengan penuh rasa gembira untuk menuju masa depan cerah. Di sekolah, ku lihat sekumpulan siswi berjilbab lebar, dengan mansetnya yang menutupi pergelangan tangannya, dengan mimik muka yang berseri-seri menyambutku –ke PDan-, yang sering disebut Para Jilbaber yang sedang duduk-duduk disamping DPR (Dibawah Pohon Rindang). Jilbaber begitulah para warga sekolah menyebutnya. Terlintas ku lihat sesosok gadis manis dengan seragam putih biru berdiri di dekat DPR, ku lihat dari mimik mukanya, sepertinya dia begitu friendly, dan mudah untuk bersosialisasi dengan orang lain atau orang yang baru dia kenal.
Ku sapa para jilbaber dengan mengucapkan salam di iringi dengan bersalaman dan cipika-cipiki, itulah kebiasaan kami ketika bertemu. Sungguh senang, hati ini bertemu dengan para aktivis dakwah. Sudah beberapa minggu kami tak jumpa, rasa kangen pun kami lampiaskan bersama. Terlintas dalam penglihatanku, ku lihat sesosok gadis itu. Rasanya ku ingin menyapanya. Tapi apalah daya, kurangnya rasa percaya diri itulah yang kurasa, merasa enggan untuk menghampiri.
Ehmmm, pikirku dalam hati,”Apakah dia akan menjadi penerus kami sebagai aktivis dakwah sekolah.??” Itu yang menjadi tanda tanya besar dalam hati dan benakku. Tiba-tiba Nasya membunyarkan pikiranku,”Kenapa ukh.?” tanya Nasya padaku. “Ehmm, ah tidak. Tidak apa-apa.” Jawabku.. Aku pun bertanya-tanya mengenai gadis yang ku lihat itu, entah dasar apa aku ingin mengetahui gadis itu, merasa heran & penasaran, mungkin itulah yang kurasa. Ternyata, dari referensi terpercayaku yaitu Raisya, akhirnya ku tahu bahwa gadis manis itu adalah bibit anggota baru sebagai aktivis dakwah di sekolah ku. Senang rasanya hatiku mendengar semua itu. Padahal aku belum mengetahui seberapa pasti apa yang ku rasa.
*****3 bulan kemudian *****
Dalam waktu 3 bulan terakhir ini, aku mencari-cari data mengenai dirinya. Akhirnya aku pun mengetahui mengenai dirinya. Ehmm, aku pun pergi ke kamarku, lalu aku membuka Lasya ku, yaitu laptop kesayanganku, pemberian ayah saat aku mendapatkan peringkat pertama dalam Olimpiade Matematika se-Provinsi, untuk mengisi kepenatanku, iseng-iseng aku ingin bermain game. Tiba-tiba, “Aku ingin mencintaimu, setulusnya, sebenar-benar aku cinta .....”, lagunya edcoustik, suara nada pesan Handphoneku berbunyi. Ku lihat pada tampilan Handphoneku, aku tidak mengenal nomor ini, tidak ada kontak nomornya. Lalu aku pun membuka isi sms itu. Terjadilah obrolan, obrolan kami dalam pesan singkat :
Pengirim(Ishfi) :“Asalamualaikum.. Ini numb’a t’Qisya bkn.?”
Aku (Qisya) :“Wa’alaikum salam.. Iya, ini sapa yaa.? ”
Ishfi :“t’Qisya, ini aku Ishfi. Aku, sering bgt liat t2h. Teh, aku pengen knal dket ma t2h, bleh gk aku curhat ma t2h.? ”
Qisya :“Owh Ishfi, dgn snang hati de. Snang jga bsa knal ma ade, insyaallah t2h bsa mjd penasehat & pendengar yg baik.”
Setelah kejadian itu, aku mulai akrab dengan Ishfi, kita seperti adik & kakak yang kompak, itu menurut pendapat teman-teman seorganisasiku di rohis. Setelah 1 tahun berlalu, akhirnya tibalah saatnya perpisahan. Ujian nasional pun telah kami tempuh, & akhirnya kami semua lulus dengan nilai yang memuaskan.
Banyak sekali moment-moment yang begitu indah yang kami jalani. Ishfi, itulah nama yang selalu ku ingat setelah aku lulus dari SMA tercinta. Walaupun aku sudah tak berada disana, tapi kami selalu menjaga komunikasi dengan baik. Sampai kemarin kadang aku masih bertanya - tanya, apa itu persahabatan sejati? Bukan karena aku tak tahu artinya, tapi karena aku menyaksikan keberadaannya.
Yang selalu ku ingat darinya
Dia anak yang selalu mengkritikku jika ku selalu berbuat yang aneh-aneh. Dia anak yang selalu ingin tahu. Terkadang saat aku melihatnya, dia seperti seseorang yang selalu membawa semangat untuk sahabat dan teman-teman di sekelilingnya.
Akhirnya, ku tahu itu dia.
_The end_
“Aku mengerti betapa sulitnya kita sekarang untuk memeluk satu sama lain. Tapi aku juga mengerti, betapa inginnya kita memeluk erat - erat satu sama lain. Dan itu cukup bagiku.”
(n_n)
(n_n)
Fie_28
Tidak ada komentar:
Posting Komentar